Jumat, 10 Januari 2014

Engkaukah Itu?

15.09

Serasa mimpi..

Sudah puluhan kali aku menerima banyak pelukan dari anak-anakku..
Tetapi menerima hujanan pelukanmu waktu itu membuatku seakan tak percaya.

Engkaukah itu?

Sesungguhnya akulah manusia pemimpi yang masih bertahan hidup dalam pengharapanku akan mimpi-mimpiku suatu saat kelak mewujud..

Engkau datang seketika, seperti sekelebatan mata mengerjap :

Engkaupun muncul di hadapanku..
Sebenarnya waktu itu aku belum bisa menyadari apakah yang telah terjadi..
Nampaknya aku mengalami lompatan jiwa untuk sekian mili detik
sampai aku dapat merasakan pelukanmu menarikku sedemikian eratnya..
Aku merasa seperti mimpi..

Bahkan sampai saat ini.

Belum pernah aku merasakan hal seperti itu darimu..

Engkaukah itu?

Cerahnya wajahmu dan pesonamu yang semakin memikat.. Engkau selalu menampik itu dengan kerendahan hatimu.. Tapi sungguh.. Engkau semakin indah.. Jika aku bisa mengatakan banyak hal dalam ragam kias.. Maka aku mengatakan kepadamu : Engkau semakin matang, lekukmu melambai.. posturmu menjulang dan gesturmu (jika engkau mau : mampu menggoda siapapun - tapi jangan- itu pintaku)..

Aku sudah meyakininya sejak dahulu..

Kata-katamu meluncur sedemikian cepat dan aku sudah bisa menangkap
kecerdasan tutur bahasamu, tatap matamu, senyummu dan caramu bersikap..

Jiwamu di jiwaku..

Terbayar sudah tahun-tahun penuh penantian..
Ketika aku menangis dalam hening..

Pelukku seolah-olah tak terbayar, harapan seolah-olah tak berujung..
Aku menyalahkan diriku sendiri..

Yang kerap merindu, memeluk bayangmu dan menahan hati untukmu..

Aku tahu bahwa engkau bukanlah aku..
dan itu terus membuat tumpah air mataku..

Terkadang aku, seorang pemimpi ini:

mulai sering mengendurkan pelukanku..
Agar aku tidak sakit atas pengharapan..
atas hujaman rindu yang mendera batinku.

Engkaukah itu, anakku?

Mengapa engkau mengingat aku?
Mengapa engkau memelukku sedemikian erat?
Membuatku seperti kesulitan bernafas karena bahagia..

dan..

aku tak bisa menahan derai air mataku bersama isi hatiku ini anakku yang terkasih..

Terimakasih untuk pelukan hangatmu..
Aku merasa tidak pantas..

Aku seorang pemimpi..

Ketika tubuhku terus menerima eratnya pelukanmu, di dadaku, di bahuku..
Aku merasa sebagai manusia pemimpi yang masih belum bisa percaya akan kejadian itu..

Engkaukah itu, dekk?

Momen ketika engkau mencium kedua pipiku, aku sudah sedemikian bahagia..
Aku bisa merasakan bedanya.. Sungguh.

Tidakkah engkau ingin tahu apa yang terjadi pada saatku sekarang ini?
Air mataku tertumpah setiap kali aku mengingat engkau mencium keningku..

Aku merasa seperti seorang ibu yang mendapat cinta kasih dari anaknya..

Engkau membuatku menumpahkan semua air mataku saat ini..

Aku menikmati semua pelukanmu yang terasa sangat berbeda dari biasanya.. Aku mengenalmu hanya sederhana dari peristiwa sederhana di tahun-tahun lampau kita..

dan aku tidak pernah mengharapkan seindah ini.. Bagiku engkaulah mimpiku yang menjadi kenyataan saat ini..

Terimakasih karena engkau sudah mewujud dalam hidupku, Tara..

Aku,
manusia pemimpi..

16.55